Jumat, 04 Agustus 2017

Pemilik Hati






Dear Pemilik Hati,

Engkau Maha Tahu atas segala apa yang ada di hati ini. Engkau Maha Tahu apa yang dibutuhkan hati ini. Engkau Maha Tahu hati mana yang tepat untuk hati ini. Engkau Maha Tahu sampai kapan hati ini menunggu. Engkau Maha Tahu kapan dia datang mendampingi hati ini.

Duhai Pemilik Hati,
Aku tidak lelah menunggu, aku tidak bosan meminta, hanya saja aku malu ketika kau memenuhi kebutuhan dan keinginanku. Namun perintahMu masih sering ku abaikan. Entah sebesar apa rasa terimakasihku padaMu, entah sebanyak apa rasa syukurku padaMu, yang pasti nikmat ini sungguh tak terhingga.

Duhai Pemilik Hati,
Sampaikan pada dia yang nanti jadi imamku, bahwa saat ini aku sedang memperbaiki diri agar kelak ia menemukanku dalam keadaan diriku yang sudah siap menjadi makmum yang shalehah untuknya. Dan sampaikan padanya bahwa sesungguhnya aku sedang menahan diri dari rasa rindu kepadanya.

Duhai Pemilik Hati,
Bawa hati ini pergi kemanapun Kau mau. Biarkan hati ini jatuh kepada dia yang tepat untukku dan aku tepat untuknya. Dan jatuhkan hati ini setelah Kau persatukan kita dalam ikatan suci yang Kau ridhoi.
Sungguh aku tidak menginginkannya datang cepat atau bahkan terlambat. Aku hanya ingin dia datang di waktu yang tepat.

Duhai Pemilik Hati,
Genggam hati ini dan teguhkan atas segala prinsip yang sudah kita sepakati. Dan jangan biarkan hati ini tergoda pada kenikmatan dunia yang semu.


-TN-

Selasa, 01 Agustus 2017

Untuk Kamu


Dear kamu yang pernah ku kenalkan kepadaNya,

Awal bertemu denganmu aku tidak merasakan sesuatu yang aneh, sama seperti bertemu dengan lelaki biasanya. Namun setelah perkenalan itu, dan kamu banyak berbagi cerita tentang kehidupanmu barulah aku tahu bahwa aku bisa banyak belajar dari sosok sepertimu.

Hari berganti menjadi minggu, betapa semakin resahnya hati ini dan akupun berfikir keras tentang perasaan apa yang ada di hati ini. Jika memang ini cinta, seharusnya ia datang setelah akad bukan setelah pertemuan itu.
Marah, kesal, mengumpat. Ya, itulah yang kulakukan beberapa hari belakangan. Sampai akhirnya akupun sadar, bukankah cinta itu anugerahNya? Lalu mengapa aku mengumpatnya? Dan akupun sadar inilah yang dinamakan Jatuh Cinta Sebelum Akad Itu Ujian.
Sungguh perasaan ini sangat mengganggu aktivitasku, dan satu hal yang aku lupakan. Mengapa aku tidak menceritakan perasaan ini kepadaNya? Bukankah Dia Sang Pemilik Hati? Akupun mengenalkanmu padaNya dan kamupun mendapat porsi didalam doaku.

Minggu berganti bulan, aku tidak lelah menantimu hanya saja Allah memberikan jawaban atas semua doaku selama ini. Entah aku yang tak baik untukmu atau memang kamu yang tidak baik untukku. Sedikit demi sedikit Dia tunjukan bahwa kamu dan aku tidak bisa menjadi kita. CaraNya memberi tahuku berbagai macam, dari teman sampai sikapmu yang menunjukan bahwa aku bukanlah cerminan dirimu.Dan sekarang rasa yang aneh itupun menghilang dengan sendirinya. Mungkin ini cara Allah menjagaku dari cinta yang tidak halal untukku. Sungguh aku tidak menyesal telah mengenalkanmu padaNya, tapi akulah orang yang paling menyesal ketika aku mengejarmu untuk menjadi kekasih tidak halalku dan mengabaikan perintahNya. Aku mencintaiNya, maka dengan itulah aku mengikuti jalan yang telah Dia tentukan untukku.

Terimakasih sudah mengajariku tentang ikhlas melepaskan sesuatu yang tidak halal. Semoga kita mendapat yang terbaik untuk kita di kehidupan masa depan kelak.


-TN-

Rabu, 26 Juli 2017

Perkenalan

Assalamualaikum,

Nama saya Tia, ini tulisan pertama saya di blog baru saya. Saya berasal dari Jawa Barat lalu merantau ke Jakarta. Niat hati merantau, karena ingin mengejar cita-cita hehe
Semoga saja dengan munculnya blog saya ini bisa menjadi manfaat untuk kalian kalian semua :)